PERBANKAN SYARIAH

JURUSAN “PERBANKAN SYARIAH” SEHARUSNYA MENERAPKAN METODE PERBANKAN MODERN JUGA DALAM MATA KULIAH

PS IKHAC – Mahasiswa perbankan dinilai butuh kembali mempelajari metode perbankan modern. Sebab, dengan adanya FinTech mahasiswa khususnya di kampus daerah masih banyak yang belum mengenal perubahan ini.

(Foto Wahyoe Soedarmono)

                               Ekonom dari Sampoerna University Wahyoe Soedarmono mengatakan, adanya fintech atau inovasi sistem keuangan di era digital memaksa sektor perbankan harus berubah lebih innovatif. Adanya diversifikasi produk selain kredit sangat diperlukan bagi sumber pendapatan baru bagi perbankan.

Karena itu, Project Manager Program Kerjasama HSBC-PF ini menilai para mahasiswa perbankan harus dikenalkan dengan materi ajar perbankan modern yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sayangnya di Indonesia materi ajar perbankan modern hanya bisa ditemui di kampus besar.

 Calon banker dari perguruan tinggi di Timur dan Barat Indonesia masih jarang ditemui materi perbankan modern tersebut. “Dalam tiga tahun kami merangkul 600 dosen dari seluruh Indonesia guna mencetak spesialis perbankan modern masa depan,” katanya pada diskusi Training of Trainer Dosen Perbankan Lokal HSBC Indonesia bersama Putera Sampoerna Foundation di Jakarta, Jumat (21/7/2017).

Dia menjelaskan, pelatihan ini menyasar perguruan tinggi di kota yang literasi keuangannya rendah. Sebut saja Lhoksuemawe, Manado, Merauke, Ternate hinggga Tobelo. Dia menjelaskan, ada empat materi yang diajarkan yakni pertama manajemen perbendaharaan yang membuat kas perbankan menjadi lebih produktif. Misalnya, bisa diinvestasikan di pasar modal.

Materi kedua yaitu manajemen risiko. Materi ketiga yakni manajemen kredit yang perlu diajarkan karena perbankan seharusnya bisa menaikkan kredit ketika perekonomian sedang turun dan seharusnya bank tidak takut memberikan pinjaman.

Dia melanjutkan, materi keempat yaitu operasional perbankan yakni aktivitas perbankan apa yang bisa dilakukan selain kredit dan funding. “Point-nya kita mau gali potensi baru dengan adanya fintech dan perkembangan finansial global. Kita mau coba navigasi perbankan supaya mereka bisa lebih aware dan disaat yang sama bisa mengekplotasi ruang baru yang profit,” terangnya.

Dosen Ekonomi Universitas Musamus Merauke Tarsisius mengungkapkan, memang banyak materi perbankan modern yang belum diajarkan di kampusnya. Dia sadar betul bahwa mahasiswanya memerlukan pengetahuan terbaru yang sangat penting bagi anak didik.

Namun, untuk menjangkau materi finansial dan perbankan baru bukan perkara sederhana. Dia menjelaskan, melalui kesempatan pelatihan ini maka dia dan para dosen bisa membantu menyusun bahan ajar yang lebih baik ke depan.

Tarsisius mengatakan, pelatihan yang didapatnya sangat membantu penelitian yang akan dibuatnya. Penelitiannya akan diberi judul faktor yang memengaruhi minat orang Papua dalam menabung.

“Kampung di Merauke didomisili orang Papua dan pendatang. Di kampung ada perbedaan tingkat kesejahteraan. Pemahaman keuangan yang baik belum dipahami masyarakat asli Papua. Orang Papua tidak mengenal menabung. Mereka menghabiskan uang yang didapatnya pada hari itu juga, maka edukasi ini penting untuk daerah saya,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *